Curriculum
Course: Digital Heroes: Bisnis Melindungi Hak Anak
Login

Curriculum

Digital Heroes: Bisnis Melindungi Hak Anak

Video lesson

Faktor-faktor pekerja anak

LANJUTAN MENGENAI KATEGORI USIA

Kategori pekerjaan anak sesuai standard BPS

  • Ada dua hal yang tekait dengan kategori ini:

    1. Umur/usia anak

    2. Lamanya bekerja

 

Terkait dengan umur/usia anak

  • Untuk anak usia 5-12 tahun, jika bekerja selama lebih dari satu jam dalam total 1 minggu, maka termasuk pekerja anak

  • Untuk anak usia 13-14 tahun, jika melakukan pekerjaan lebih dari 15 jam per minggu, juga termasuk pekerja anak

  • Untuk anak usia 15-17 tahun, jika melakukan pekerjaan lebih dari 40 jam per minggu, dikategorikan sebagai pekerja anak. 

 

Screen Shot 2025-04-22 at 16.50.23 

 

 

FAKTOR-FAKTOR PEKERJA ANAK

 

Pengantar

Dalam melakukan pencegahan pekerja anak, perusahaan perlu mempertimbangkan apa saja akar masalah. Perusahaan juga perlu menyoroti bahwa pekerja anak tidak hanya terjadi di aktivitas bisnis yang terpantau oleh perusahaan, tetapi juga dapat terjadi di rantai pasok. 

Azwar (2023) mendefinisikan faktor-faktor pekerja anak sebagai berikut:

1.Faktor Perekonomian

 

21 (1)-min

 

  • Pekerja anak dan kemiskinan menjadi satu siklus yang saling berkaitan, didasari dengan tingginya kemiskinan dan pengangguran.

 

Bagaimana kemiskinan bisa berpengaruh terhadap pekerja anak?

  • Keluarga-keluarga yang hidup dalam kemiskinan bisa mendorong anak-anaknya menjadi pekerja anak karena itu anak-anak tidak mendapatkan pendidikan, tidak mendapatkan keterampilan yang baik.

  • Dengan tidak berbekal keterampilan dan pendidikan yang baik, mereka di suatu masa tidak akan mendapatkan pekerjaan yang layak. 

  • Jika mereka menikah atau membangun sebuah keluarga, bisa juga mereka tidak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. 

  • Ini menjadi lingkaran yang tidak terputus karena saling berkaitan satu sama lain.

  • Jadi, jika keluarga tidak terentas dari kemiskinan bisa jadi dapat memunculkan pekerja-pekerja anak baru dan pekerja anak ini bisa juga memunculkan keluarga-keluarga baru yang akan terlilit dengan situasi kemiskinan.

 

2. Faktor Sosial dan Budaya/Tradisi/Pembiasaan yang dilakukan oleh keluarga

  • Dalam hal ini bisa melihat dari konteks pedesaan, sebanyak 58,5% pekerja anak ditemukan di pedesaan.

  • Anak-anak dilibatkan di dunia pertanian karena orangtua beranggapan ini menjadi masa pelatihan atau membiasakan mereka untuk persiapan ketika dewasa.

  • Anak-anak yang berada di perdesaan sering bekerja dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan

 

3. Faktor Urbanisasi

  • Pedesaan sering dianggap tidak mampu memberikan cukup lapangan pekerjaan, anak-anak ini keluar dari desa dan mencari peluang di kota dengan harapan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi

  • Anak-anak yang bekerja di perkotaan biasanya bekerja di sektor perdagangan, biasanya reparasi mobil dan sepeda motor. 

  • Kesempatan yang langka di desa membuat mereka terdorong untuk keluar agar mendapatkan penghasilan.

  • Kaitan urbanisasi dengan sektor industri rumahan: 

Konteks di Industri Mode dan Pakaian

Industri Mode dan Pakaian cenderung untuk bekerjasama dengan pihak ketiga atau outsourcing sehingga sulit dilacak keberadaan mereka. Beberapa pekerjaan, seperti menambahkan manik-manik, bordir, atau menambahkan rumbah juga dilakukan di rumah, tidak jarang di pinggir kota, yang sering melibatkan anak perempuan. Tipe pekerjaan biasanya sulit untuk dipantau durasi waktu bekerjanya.

Sumber: https://bhr-navigator.unglobalcompact.org/issues/child-labour/

 

4. Faktor Pendidikan

  • Anak-anak yang tidak mendapatkan layanan pendidikan atau tidak bisa mengakses layanan pendidikan bisa menjadi pekerja anak.

  • Anak-anak ini tidak bersekolah karena tingginya biaya yang dibutuhkan. Selain biaya sekolah, biaya yang diperlukan adalah bagaimana operasional dari rumah menuju ke sekolah.

  • Ada juga tradisi yang membuat anak-anak perempuan tidak dapat mengakses pendidikan dan mendorong mereka untuk menjadi pekerja-pekerja anak. 

Konteks di Industri Pertanian

Meskipun beberapa pekerjaan di sektor pertanian masih dalam kategori pekerjaan biasa untuk anak, ada beberapa pekerjaan yang terjadi di rantai pasok pertanian yang dilakukan secara informal. Hal ini sering terjadi dalam rantai pasok perkebunan pisang, ternak dan produk susu, cokelat, kopi, kapas, perikanan, beras, gula dan tembakau. Pekerjaan informal di bidang pertanian dangat bergantung pada buruh musiman yang mengakibatkan anak sering kali membolos atau berpindah-pindah sekolah untuk membantu orangtuanya bekerja di ladang.

Sumber: https://bhr-navigator.unglobalcompact.org/issues/child-labour/

 

5. Faktor Perkembangan Teknologi

  • Perkembangan Teknologi berimplikasi terhadap memperluas akses pasar tanpa batas. Anak-anak juga mengenal teknologi sejak mereka masih berusia dini.

  • Dengan akses ini memunculkan pekerjaan-pekerjaan yang membuat anak-anak bisa terlibat di dalamnya. Contoh sebagai youtuber, influencer dan juga sebagai host pada saat livestreaming.

  • Pekerjaan-pekerjaan di dunia digital ini juga memberikan kerentanan terhadap anak-anak karena:

    1. Durasi yang panjang

    2. Dilakukan di malam hari

    3. Tidak bisa membatasi respon netizen yang berinteraksi dengan mereka, sehingga kemungkinan mengalami kekerasan lisan atau seksual.

 

***Hanya klik Next jika sudah menyelesaikan bagian ini***