Bisnis pariwisata dijadikan kendaraan oleh pelaku kejahatan seksual untuk melakukan eksploitasi seksual
Bisnis pariwisata berupa: bidang perjalanan (tour and travel), bisnis akomodasi (perhotelan), tour guide, dan hiburan (spa, massage, diskotik dan karaoke)
Pelaku kejahatan seksual memanfaatkan tempat-tempat tersebut untuk melakukan tindak kejahatan seksual anak seperti:
Banyak anak-anak yang terlibat dalam prostitusi,
Bisnis yang abu-abu seperti spa plus plus yang melibatkan anak dalam praktik bisnisnya,
Jam kerja yang eksploitatif yang membuat anak bekerja di malam hari dan rentan mengalami eksploitasi seksual
Dalam industri pariwisata, ada beberapa eksploitasi seksual anak yang lazim terjadi:
Prostitusi anak (seperti yang disebutkan tadi).
Prostitusi anak memang sengaja dipasok oleh pelaku-pelaku kejahatan seksual supaya wisatawan bisa memanfaatkan pariwisata sambil memasarkan anak-anak untuk tujuan eksploitasi seksual, jadi prostitusi anak ini membahayakan atau membuat rusak reputasi pariwisata yang mengakibatkan wisatawan yang baik tidak mau datang ke tempat ini
Perdagangan anak untuk tujuan seksual
Anak-anak yang dijadikan objek prostitusi sebagian ternyata adalah korban trafficking. Dari berbagai daerah direkrut, dibawa ke tempat tujuan wisata
|
Jadi prostitusi seksual anak dan perdagangan seks anak memang dua hal yang berbeda.
Sehingga perlu lebih teliti untuk membedakan apakah anak tersebut merupakan korban prostitusi ataupun perdagangan seks, meskipun keduanya merupakan kejahatan. |
Eksploitasi seksual bentuk lainnya di destinasi pariwisata
Beberapa contoh:
Wisatawan melakukan kejahatan seksual,
Wisatawan yang memiliki tendensi/kecenderungan sebagai pedofil sehingga dia mencari anak-anak dengan penjagaan orang tua kurang maksimal
Ada praktek-praktek budaya yang dimanfaatkan (disalahgunakan)
Bagaimana upaya pencegahan dan penanggulangannya?
Penting untuk melihat peran yang dapat dilakukan oleh Industri pariwisata dan perjalanan dapat mencegah dan menanggulangi eksploitasi seksual anak dengan beberapa contoh berikut:
Group Hotel Accor mengembangkan program pariwisata yang ramah anak. Program ini melarang anak-anak untuk dibawa tanpa penjagaan dan tanpa adanya relasi kekeluargaan dengan melatih karyawan untuk mengenali hal tersebut.
Ada juga bisnis travelling (perjalanan) yang membuat video kampanye di pesawatnya.
Ada juga bisnis lainnya yang melatih tour guide-nya agar dapat mengenali wisatawan-wisatawan yang cenderung melakukan eksploitasi seksual. Bahkan cleaning service dilatih agar bisa melaporkan jika ditemukan ada praktek-praktek eksploitasi seksual anak di bisnis mereka.
Jadi, dengan melatih, membuat kebijakan, membuat intervensi terhadap korban dalam bentuk rehabilitasi ini bisa dilakukan secara cepat oleh bisnis sehingga ada responsibility dari dampak negatif dari praktek eksploitasi seksual yang tidak dikehendaki yang terjadi di dunia usaha.
***Hanya klik Next jika sudah menyelesaikan bagian ini***